Ini kisah tentang dua orang wanita matang yg telah melalui manis-asam-paitnya kehidupan. Kisah ini gw dengar langsung dari kedua wanita tersebut, dalam perjalanan pulang dan pergi ke/dari Jakarta beberapa waktu yg lalu….

Wanita pertama

Dari wajah, style dan tingkah teman seperjalanannya yg canggung, gw menebak klo interaksi antara keduanya adalah majikan dan bawahan. Dari gerak-geriknya yg juga canggung, gw juga menebak bahwa Wanita ini tidak terbiasa melakukan perjalanan sendiri, apalagi menggunakan kereta api kelas menengah seperti ini. wajahnya, style dan penampilannya keseluruhan menunjukan bahwa dia dari kalangan “berada”, wanita yg terbiasa dilayani.

Awalnya kami duduk berdampingan dalam diam (asistennya duduk di kursi sebrang yg terpisah), MP3 dan buku yg sengaja saya pegang memang fungsinya untuk menghindari percakapan canggung yg mungkin terjadi, tapi….seperti yg hampir selalu terjadi, wanita itu memulai pembicaraan, mulanya hanya percakapan basa-basi dgn topik cuaca yg kemudian berkembang menjadi pembicaraan yg cocok untuk dijadikan memoar.

Sesuai dgn tebakan gw, wanita ini terlahir dan dibesarkan dikeluarga yg berada, dianugrahi otak yg cerdas (ini terbukti dari kemampaannya dalm menguasai 4 bahasa), serta penampilan dan style yg menawan. Dia bercerita bahwa sebagai anak tunggal yg memiliki jantung yg lemah, kedua ortunya sgt protectif, mereka hanya memberikan sekaligus menuntut yg terbaik darinya.

Setelah menamatkan pendidikan masternya, sebelum dia sempat mencicipi dunia kerja, dia bertemu jodohnya, menikah dgn suaminya (alm) yg sgt mencintai ,melindunginya dan mampu mensupport gaya hidupnya dan melarangnya untuk bekerja (krn alas an kesehatan tadi). kemudian dia dianugrahi 4 orang anak yg cerdas dan berbakti. Ketika suaminya meninggal, ke 4 anaknya telah sukses dan mampu membiayai gaya hidup dan kebutuhan2 khususnya sebagai manula, kini dia tinggal bersama anak sulungnya dgn seorang suster pribadi yg akan selalu mendampingi dan merawatnya.

***********

When I heard her story….I can help to think:

“whoa…..its like a fairy tale…. life and love presented to her on a silver plate….

Dunia, takdir, Tuhan…semua bersahabat dgnnnya, wanita yg sgt beruntung…..

Wanita ke dua

Wanita ini menjadi teman duduk gw dalam perjalanan pulang ke bandung.

Dari gerak-geriknya yg energik dan serta pembawaannya yg tegas juga supel (gw udah mengamati dia sejak kita masih di ruang tunggu travel), gw menebak bahwa wanita ini adalah seorang business women yg sukses dan berkelas, wanita yg yakin dgn dirinya sendiri, dan tau apa yg dia mau dalam hidup ini.

Ter nyata kebetulan kita duduk bersebelahan di travel tsb.Dan sama seperti yg selalu terjadi, dia yg mengawali pembicaraan yg juga berujung pada memoar hidupnya.

Wanita ini juga terlahir dan dibesarkan dari keluarga yg berada, tapi kemudian terjadi musibah, dan dia sebagai anak sulung harus menggantikan Ayahnya sebagai bread winer keluarga. Kuliah dijalaninya sambil bekerja sebagai penjahit dan penjual kue2 kecil, dan dia tetap berhasi lulus tepat waktu dgn pringkat magna cum laude.

Tak lama setelah lulus, dia mendapat pekerjaan di sebuah kantor swasta, tapi pekerjaannya sebagai penjahit tetap dijalaninya, bahkan meskipun hanya dari promosi mulut ke mulut, kliennya semakin bertambah. Kemudia dia bertemu dgn jodohnya, menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan tetap berkarir dan berwirausaha ( dia mulai memiliki beberapa anak buah dalam usaha jahitannya).

Karna memang dari awal sudah terbiasa dgn hidup yg multitasking dan juga dianugrahi kesehatan yg prima, keluarga , karir dan usahanya, semua berjalan dgn baik. Sampai kemudian ketika anak sulungnya baru masuk kuliah dan anak bungsunya baru masuk SMP, suami tercintanya meninggal. Dia mesti membesarkan, merawat dan membiayai ke 2 anaknya sendiri. Alhamdulilah meskupun gak mudah tapi dia bisa, karir kantorannya dia lepas, dia focus kepada usaha jahitannya (semi butiq gitu deh) dimana keuntungan yg didapat digunakannya untuk berbisnis rumah kost2an. So meskipun kedua anaknya kini telah mandiri dan sukses, dia tetap mensuport gaya hidupnya sendiri, tetap tinggal di rumah yg dibangun oleh alm suaminya dan sekali2 mengunjungi anak2nya sambil menjalani hobi travelingnya.

************

Ketika sy mendengar kisah wanita kedua ini, gw kembali berpikir

“what a lady!!maybe that’s what they called live your life to its fullest!”

Tapi mau gak mau, pikiran sy jadi membanding2kan dgn wanita yg pertama, dan kesimpulan yg sy dapat adalah: “ SUBHANALLAH, ALLAH ITU MAHA PENGASIH!!!”

“Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya”

Gw yakin, Kedua wanita ini sama2 disayang oleh Nya, dengan cara Nya yg unik.

Tapi jg gw jadi berpikir bila ada raport kehidupan, bila ada raport yg menilai jalan hidup seseorang, siapa sih dari kedua wanita ini yg meraih peringkat 1?

Selain tingkat keimanan dan pengabdian pada Nya, ada dua parameter pencapaian kehidupan yg terpikir oleh gw: kebahagian dan kebanggaan

Gw yakin klo dibandingin, kedua wanita ini sama2 bahagia

Tapi bagaimana dgn kebanggaan?! Gw yakin wanita yg kedua sangat bangga dgn jalan hidup yg dijalaninya, bangga dgn kisah hidupnya-yg-mgkn-waktu-dulu-dijalaninya-dgn-air mata-tapi-kini-dikisahkannya-dgn-senyum-kebanggaan….wanita kedua memiliki banyak cerita yg seru untuk dikisahkan berulang-ulang, karna kisah perjuangan selalu lebih seru dan menrik dari kisah dongeng ” fairy tale”

Ah semoga gw juga bisa seperti itu, menjalani hidup dgn sungguh2 dan penuh kisah, diberi kemudahan disuatu sisi dan juga ditempa dgn ujian2 yg mendewasakan dan sesuai dgn kemampuan gw, so ketika tiba waktu gw untuk “menutup mata” , gw menyambut malaikat maut dgn senyuman dan pikiran:

“Alhamdulilah….what a great life, and I’m up for another adventure”

Menjalani hidup yg penuh kebahagiaan dan kebanggaan

Amiin ya Allah …. ^^