2 hari yg lalu, gw bertemu dgn seorang sahabat gw yg merupakan aktivis emansipasi perempuan. Kita berdialog tentang peran perempuan di masa kini, tentang emansipasi, tentang prajudice2 yg sering kali diterimanya sebagai salah seorang aktivis emansipasi…..
Dia mengungkapkan kegalauannya ( itu bahasanya dia loh) mengenai anggapan yang beredar mengenai emansipasi,dan pola pikir yg mencoba ditularkan para aktivisnya, yaitu:
mengompori kaum Hawa untuk terjun di luar rumah dengan porsi waktu yang lebih lama, sementara di rumah, cukup malam hari saja. Itu pun kalau tidak lembur. membangunkan semangat pemberontakan bagi kaum Hawa. menanamkan pikiran bahwa selama ini mereka wanita hak dan kewajiban yang sama, akan tetapi “dirampas” oleh kaum laki-laki. Atau dengan kata lain, bukan karena kodrat wanita yang menjadikan ia dkuasai laki-laki, namun dipolitisir oleh kaum laki-laki itu sendiri.Mereka berpikir, kalau laki-laki tidak hamil, maka wanita juga berhak untuk menolak ‘dihamili’, meski oleh suaminya sendiri. Jika laki-laki tidak menyusui anak, maka wanita juga berhak menolak memberikan ASI. …
well itu anggapan yg salah, mungkin itu anggapan yg kebablasan mengenai emansipasi. Emansipasi berasal dari emancipate (bhs inggris) yg artinya memerdekakan/membebaskan. pengertian dari emansipasi itu sendiri adalah:
perjuangan dalam meraih bebasan bagi kaum perempuan untuk menjadi apapun yg dia inginkan, kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri, apapun itu (asalkan kebebasannya tsb tidak menggangu hak kebebasan orang lain-klo dia seorang ibu tentung yg dimaksud kebebasan anaknya untuk memperoleh ASI
)
Seorang perempuan bebas memilih menjadi ibu rumah tangga, perempuan karir, perempuan pelajar, perempuan pekerja yg juga ibu rumah tangga, perempuan yg menerima poligami, perempuan yg menentang poligami,perempuan yg mengikuti prog KB, ataupun bila terpaksa perempuan yg menjadi kepala keluarga, ect…..
Seorang perempuan juga bebas berdandan sesuai dengan kenyamanan dirinya (tentu saja, asalkan tidak menggangu kenyamanan orang lain dan tidak pada tempatnya
) , menjadi perempuan yg modis, unik, tomboy, super manis, anggun, berjilbab ataupun tidak. bebas saja, asal dia nyaman dan tetap dapat menjaga harga dirinya, tidak menjadikan dirinya menjadi objek pria/dunia bisnis.
Itu semua bukan hanya demi dirinya, tapi demi anak2nya juga, karna agenerasi macam apa yg bisa tumbuh dari ibu yg tidak menghargai kata “empu” sebagai penghormatan pada kaum perempuan?!
Tidak ada prasangka yg membebani, tidak ada yg berhak menghakimi mana yg lebih sulit, mana yg lebih baik dan mana yg lebih mulia. Karna sama seperti semua pilihan2 lainnya dalam hidup, semuanya itu memiliki keuntungan dan kelemahan. Semuanya itu memiliki permasalahan masing2. …
Tapi sering kali prejudice itu dilakukan oleh sesama kaum perempuan, umumnya secara tak sadar digembar gemborkan oleh sinetron, novel, artikel dan media massa lainnya adalah:
- Perempuan yg memilih sebagai ibu RT, sering digambarkan sibuk arisan, bergosip, mati2an mencoba berbagai macam kosmetik/diet/olah raga dengan motivasi “agar suaminya tidak melirik perempuan lain”
- Perempuan yg memilih untuk terus meneruskan pendidikannya, ada dua tipe yg sering digambarkan,
- bila dia lajang, keinginan belajar itu dikarenakan kompensansi dari patah hati, anti perkawinan, atau trauma masa lalu sehingga dia menjadi pribadi yg anti romantisme.
- sedangkan bila dia telah menikah, perempuan2 ini dianggap egois karna lebih mementingkan menambah ilmu untuk diri, dibandingkan mendampingi anak2nya dalam menimba ilmu
- Sedangkan perempuan yg memilih sebagai perempuan karir sering digambarkan, ambisius, manipulative, gak bisa masak, apalagi membersihkan rumah /mencuci dll, dengan ucapan2 yg sering kali menginjak2 harga diri suaminya (yg digamparkan sebagai tipe suami yg lembek dan plin-plan)
Masih banyak, prasangka2 lain yg ditularkan lewat berbagai media massa, meskipun kadang hal itu mungkin memang benar terjadi, tapi itu bukan hal yg selalu terjadi. Dan yg menyedihkannya, prasangka2 itu tumbuh subur karna perempuan juga…
Bukan hukum Negara, adat, kodrat apalagi agama yg menahan langkah perempuan dalam berkarya, melainkan prasangka…
Bagaimana dengan kaum transgender? Bagaimana posisinya didalam emansipasi?apa mereka termasuk dalam definisi perempuan?! Pada intinya sama, mereka juga bebas untuk menentukan jati dirinya dan hidup sesuai dengan jati dirinya tersebut, tentu saja dengan kewajiaban yg sama dengan perempuan lain. Menjaga harga dirinya, menjaga dirinya sesuai dengan norma dan agama. Tidak ada penistaan, tidak ada perasangka2 yg merendahkan.
So selamat hari kartini untuk semua kaum perempuan
Jgn lupakan semangat emansipasi, semangat untuk bebas menjadi diri sendiri, semangat untuk tetap balance dalam menjalani berbagi peran perempuan dalam kehidupan, semangat untuk tidak saling menghakimi dan tidak menularkan prasangka2 yg dapat “membunuh”……
…………………………..
Tulisan ini saya dedikasikan untuk ibu tercinta : dr. Juldiana Chaidir. Salah seorang perempuan sejati, yg selalu mencoba seimbang dalam berbagai peran hidupnya, sebagai: istri yg saleh, ibu rumah tangga yg pandai dan serba bisa, wanita karir yg disegani , anak perempuan yg berbakti , saudara perempuan yg selalu bersedia menolong, ibu yg selalu menginsiprasi anak2nya dan terutama seorang perempuan yg tidak takut untuk mengungkapkan pendapat dan buah pikirannya….
I wish I could be at least, half as good as you are

No comments yet
Comments feed for this article