Ada seorang wanita yg saya kagumi..

Dulu dia seorang gadis kecil yg cerdas, lurus dan penuh ambisi

Semenjak dia belum mengenal bangku sekolah hanya ada satu pekerjaan impian yg dia pilih dan cita-citakan

Dia mempelajari semua hal yg diperlukan untuk mencapai pilihannya tersebut, dia mempersiapkan diri sebaik2nya untuk menjemput impiannya tersebut, dia membuat dirinya berbakat untuk pekerjaan impiannya tersebut

bukan pilihan yg mudah, tapi itu pilihan takdirnya, itu ambisinya, itu pilihan hidupnya

sehingga pilihannya itu tidak pernah goyah, menjadi ambisi yg memungkinkannya mencapai cita-citanya tersebut…

ada seorang pria yg saya kagumi

dulu dia seorang bocah yg selalu ingin tahu, cerdas dan memiliki banyak potensi untuk menjadi apapun yg dia cita-citakan

tapi mengenai cita-cita dan impian? Bakatnya terlalu banyak, sehingga diperlukan waktu yg cukup lama untuk memilih bakat untuk menjadi dasar dari cita-citanya…

dia memulai dari apa yg bukan menjadi bakatnya? Apa bakatnya yg membuat dirinya bahagia ketika bergelut menekuninya, dan bakat2 baru apa yg bisa dia kembangkan

tapi dia berhasil, dia menemukan bakat pilihannya, dan begitu sudah memutuskan dia melakukan semuanya dengan sungguh2, mencapai cita2nya, cita2 yg sesuai dengan bakatnya

Ada seorang pria lain yg mau tak mau saya kagumi juga

Dia orang yg termasuk dalam kategori jenius,

Meskipun dia jenius, bukan berarti dia bisa segalanya, tetap saja dalam menentukan pilihan karirnya, seharusnya dia memfokuskan pada bidang yg sesuai dengan bakat dan kejeniusannya itu

Tapi dia memilih bidang yg lain, bidang yg hanya sedikit beririsan dengan bakatnya

Awalnya dia memang sukses di pilihan karirnya itu, tapi seiring berjalannya waktu, seiring semakin banyaknya saingan, kesuksesannya itu lama2 memudar

Dia berulang kali gagal, jatuh dan terluka

Tapi itu pilihan karirnya, itu ambisinya, tidak ada kata menyerah, harga dirinya bahkan nyaris dikorbankan demi ambisinya itu…

Disuatu sisi saya kagum dengan kegigihannya, tapi disisi lain saya merasa sedikit kesal; “kenapa dia tidak mendengar bisikan takdir? Kenapa dia tidak mau menjalani hidup yg sesuai dengan bakatnya, bakat yg pasti akan membuatnya suskses?”

Tapi mungkin itu yg namanya mimpi, ada orang yg terus bermimpi…

Semoga belum terlambat untuk mimpinya itu menjadi kenyataan (amiin)

ketika berjalan2 seorang diri, saya suka memandangi orang2 yg lalu lalang dan bertanya2, apakah pekerjaan mereka? Bagaimana mereka menentukan pekerjaannya tsb? Bagaimana kasah hidupnya

Karna bakatkah? Karna keturunan kah? Impian? Cita-cita? Atau membiarkan semuanya mengalir mengikuti panggilan nasib?

Apakah mereka sendiri memilih kehidupan yg dijalani ? atau apakah jalan hidup mereka dipilih oleh nasib?

Apa mereka menjalaninya sepenuh hati atau karna terpaksa?

Saya berbeda dengan ketiga orang yg saya kagumi tadi, saya tidak memiliki ambisi atau bakat yg luar biasa yang memungkinkan membuat/mengubah takdir,

Saya adalah orang yg selalu berusaha mendengarkan bisikan takdir, dan membiarkan semuanya mengalir sesuai kehendak-Nya

Tentu saya punya impian dan cita2,

Mengenai bakat, saya tidak terlalu memedulikannya.Saya lebih memfokuskan pada apa yg saya suka, meskipun kadang saya masih bingung dengan apa2 yg saya suka, karna saya juga tak tau apa yg saya tidak suka :P

(ex: saya tidak suka segala hal yg menyangkut keuangan, tapi tentu saja saya tertarik dan butuh uang :p , atau saya juga selalu bingung dengan hukum dan pasal2 yg mengaturnya, tapi saya sadar bahwa hukum diperlukan untuk mengatur manusia)

Tapi Saya percaya, bila saya sudah suka, saya akan berusaha untuk bisa, selebihnya? Insya Allah saja J

Saya tak pernah bercita-cita untuk kuliah ataupun berkarir di bidang fisika dan Teknologi informasi, tapi disinilah saya sekarang…

Dulu saya sangat tertarik dengan sejarah dan biologi, karna itu saya sempat bermimpi menjadi dokter forensic. Alasannya: dari jasad seseorang (entah itu mayat ataupun mummi) sy bisa mengetahui sejarah hidupnya, bagaimana gaya hidupnya, dan mungkin saya bisa menebak karakternya seperti apa (yeah ..I believe we are what we eat ;) )

Waktu itu ortu menentang keras pilihan itu, tapi saya bisa luar biasa keras kepala :P

Sampai kenyataan disodorkan oleh Abang, gw ternyata gak tegaan, gak tega untuk gak nangis klo ngeliat korban sesuatu dan bila pemandangan itu terlalu tragis perlu waktu yg cukup lama untuk menghilangkannya dari pikiran, agak konyol memang.. :D

Sampai kini impian dan minat saya disana tetap ada, mungkin akan terwujud menjadi sesuatu atau mungkin hanya menjadi minat semata…

Apapun itu, saya tetaplah saya, orang yg selalu mengikuti bisikan takdir…. ;)

kalau anda? :)