Innalilah wainalilaihi rojiun….
Musibah kembali mengguncang negeri ini….
Kisah pilu para korban, mau gak mau membuat mata kita berkaca-kaca
Liputan yg saling salah menyalahkan, pencarian siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas musibah ini, ataupun “revealing the truth” dari beberapa pihak bahwa: “musibah ini sebenarnya sudah diprediksi semenjak tahun….” Bukan sesuatu yg diharapkan oleh para korban
Mereka hanya perlu uluran tangan kita semua….
Dan yg membuat gw geram dan miris, tempat musibah tersebut dijadikan “tempat wisata dadakan”. beberapa orang berduyun2 berdatangan untuk sekedar menonton atau bahkan poto2 di tempat terjadinya musibah tersebut. Apalagi sesuai hukum ekonomi” ada gula ada semut”, para penjaja makanan juga turut berdatangan…(dimana yg namanya etika? tenggang rasa? perasaan sebagai sesama saudara penghuni negeri ini??)
Hhh….klo gak mampu ataupun gak mampu membantu dengan tenaga dan dana, paling tidak bantulah dengan doa (apa gunanya membawa orang tua, yg bahkan sudah sepuh ataupun balita untuk sekedar menonton?! -sumpah gw gak habis pikir)
hh… gw sendiri, setiap melihat musibah seperti ini, disamping merasa tersayat, sebuah pertanyaan yg terdengar konyol menyeruak dihati gw
“ why?”
“why them?”
setiap musibah terjadi, membuat ada perasaan yg tak mampu gw jelaskan berkecamuk dijiwa, perasaan seperti seseorang yg menunggu giliran, akankah ada giliran saya tiba? perasaan yg membuat saya memposisikan diri sebagai korban, memebuat saya ikut sedih, gelisah, membantu, berdoa…
hh…tadi gw dengar diberita, komentar seorang tokoh tentang musibah ini
“ ini adalaha pelajaran buat kita semua”
dan dalam hati gw berpikir “hh…..yeah right, belajar terus, kapan lulusnya?”
hhh…. ocehan gak puguh dari orang yg lagi ngerasa gak puguh,gw tutup dgn doa saja:
semoga para keluarga korban diberi ketabahan, hikmah, dan ketegaran, dan semoga para korban yg “meninggalkan” diberi tempat terbaik disisi-Nya
saya yakin ada rencana Tuhan yg perlu dimaknai oleh kita semua
bismilahirohmanirohim…

2 comments
Comments feed for this article
April 1, 2009 at 1:17 am
Aini
“Belajar terus, kapan lulusnya?” Belajar kan memang sepanjang hidup, say
Mungkin kita belum lulus makanya disuruh belajar terus. Kesalahan yang sama diulang-ulang lagi. Ya, iyalah gagal terus…ya, iyalah harus belajar terus. Ini dalam artian, ‘musibah ini sudah diprediksi sejak berapa tahun yang lalu’… Terus udah? Gitu aja? Selesai prediksi, terus gak ada upaya apa pun? Hhh…
April 1, 2009 at 6:53 am
erana
yoa, belajar emg sepanjang hidup, sih say
tapi kan bukan berarti ngulang mata kuliah yg sama seumur hidup kan?
kapan majunya atuh, ituuuu mulu yg dipelajari
naik kelas dunk!!!
soalnya ujian tambah lama tambah banyak, ini bukannya berusaha menyelesaikan satu “mata kuliah” biar bisa belajar buat “mata kuliah” yg lain, malahan mentok belajaaaaar itu mulu,
dan apa gunanya belajar mulu, kalo gak dipraktekan? kalo gak mencoba mencoba mencari n’ memperaktekan solusi dari hal2 yg dipelajari?
yg ada juga, jadinya rakyat belajar untuk terbiasa terkena musibah, belajar mengurangi kepekaan, belajar “melakukan darmawisata di tempat musibah”, belajar menarik keuntungan dari kedukaan saudara2-nya…
OMG, bener2 udah gila!!!
(gak semua sih, tapi takutnya menular >_< )